Tiupan Sangkakala Kedua

Silsilah Ilmiyyah 5.2.: Beriman Kepada Hari Akhir
Halaqah ke 27

 

Setelah tiupan pertama dan meninggal semua manusia, maka akan ditiup sangkakala untuk yang kedua kalinya. Dan jarak antara dua tiupan adalah 40. Allāhu A’lam, apakah 40 hari atau 40 bulan atau 40 tahun.

Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda di dalam hadits Abū Hurairah:

بَيْنَ النَّفْخَتَيْنِ أَرْبَعُونَ

“Antara dua tiupan, empat puluh.”
(Hadits shahih, diriwayatkan oleh Bukhāri dan Muslim)

Mereka bertanya kepada Abū Hurairah, shahābat yang meriwayatkan hadits ini, 40 hari atau 40 bulan atau apakah 40 tahun.

Maka beliau (yaitu Abū Hurairah) enggan menjawabnya.
⇒ Para ulama mengatakan karena tidak mengetahui ilmunya.

Dan diantara dua tiupan inilah Allāh Subhānahu wa Ta’āla akan menurunkan hujan yang ringan, yang dengan sebabnya akan tumbuh jasad manusia di dalam kuburnya, sebagaimana di dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Muslim.

Tulang ekor manusia yang telah dikabarkan oleh Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam bahwasanya dia tidak akan hancur, akan tumbuh seperti tumbuhnya tunas setelah hujan.

Sehingga terbentuklah manusia kembali dengan izin Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

ثُمَّ يُنْزِلُ اللَّهُ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً . فَيَنْبُتُونَ كَمَا يَنْبُتُ الْبَقْلُ لَيْسَ مِنَ الإِنْسَانِ شَىْءٌ إِلاَّ يَبْلَى إِلاَّ عَظْمًا وَاحِدًا وَهْوَ عَجْبُ الذَّنَبِ ، وَمِنْهُ يُرَكَّبُ الْخَلْقُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Kemudian Allāh Subhānahu wa Ta’āla akan menurunkan hujan dari langit. Maka mereka pun tumbuh seperti tumbuhnya tunas, tidak ada dari badan manusia sesuatu, kecuali akan rusak. Kecuali satu tulang, yaitu tulang ekor. Dan darinyalah akan akan dibentuk manusia pada hari kiamat.”
(HR Bukhāri dan Muslim)

Saudara sekalian,
Allāh-lah yang telah menciptakan dari yang tidak ada menjadi ada. Dan Dialah yang akan membangkitkan manusia setelah matinya.

Allāh berfirman:

وَهُوَ الَّذِي يَبْدَأُ الْخَلْقَ ثُمَّ يُعِيدُهُ وَهُوَ أَهْوَنُ عَلَيْهِ

“Dan Dialah Allāh Subhānahu wa Ta’āla yang menciptakan manusia dari permulaan, kemudian akan mengembalikan menghidupkan kembali. Dan menghidupkannya itu adalah lebih mudah bagi Allāh Subhānahu wa Ta’āla.” (QS Ar Rūm: 27)

Setelah terbentuknya jasad semua manusia, maka malaikat akan meniup sangkakala untuk yang kedua kalinya. Dan akan dikembalikan ruh-ruh kepada jasadnya dan hiduplah manusia serta akan dibangkitkan dari kuburnya.

Allāh berfirman:

ثُمَّ نُفِخَ فِيهِ أُخْرَى فَإِذَا هُمْ قِيَامٌ يَنْظُرُونَ

“Kemudian akan ditiup sangkakala yang kedua kalinya maka tiba-tiba mereka bangkit dalam keadaan menunggu.” (QS Az Zumār 68 )

 

*Disampaikan oleh Ustadz Abdullah Roy, MA., Selasa 3 Jumadil Awal 1438 H/31 Januari 2017, via WhatsApp Group HSI (Halaqah Silsilah Ilmiyyah).

 

Advertisements

Ditiupnya Sangkakala

Silsilah Ilmiyyah 5.2.: Beriman Kepada Hari Akhir
Halaqah ke 26

 

Termasuk beriman kepada hari akhir adalah beriman dengan akan ditiupnya sangkakala.

Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam pernah ditanya, “Apa itu sangkakala?”
Maka Beliau mengatakan, “Tanduk yang ditiup.”
(Hadits shahih riwayat Abū Dāwūd, Tirmidzi dan juga Nasā’i).

Beberapa ayat menunjukkan bahwa sangkakala akan ditiup 2 kali, diantaranya adalah firman Allāh Subhānahu wa Ta’āla,

ﻭَﻧُﻔِﺦَ ﻓِﻲ ﺍﻟﺼُّﻮﺭِ ﻓَﺼَﻌِﻖَ ﻣَﻦْ ﻓِﻲ ﺍﻟﺴَّﻤَﺎﻭَﺍﺕِ ﻭَﻣَﻦْ ﻓِﻲ ﺍﻟْﺄَﺭْﺽِ الَّا ﻣَﻦْ ﺷَﺎﺀَ ﺍﻟﻠَّﻪُ ۖ ﺛُﻢَّ ﻧُﻔِﺦَ ﻓِﻴﻪِ ﺃُﺧْﺮَﻯٰ ﻓَﺈِﺫَﺍ ﻫُﻢْ ﻗِﻴَﺎﻡٌ ﻳَﻨْﻈُﺮُﻭﻥَ

“Dan ditiuplah sangkakala, maka matilah siapa yang ada di langit dan di bumi kecuali siapa yang dikehendaki oleh Allāh. Kemudian ditiup sangkakala itu sekali lagi maka tiba-tiba mereka berdiri, menunggu.” (QS Az Zumār 68)

Tiupan sangkakala yang pertama, dengannya meninggal semua yang ada di langit dan di bumi, kecuali yang Allāh kehendaki.
Tiupan ini terjadi di hari Jum’at, sebagaimana dalam Shahīh Muslim.

Dan setiap hari Jum’at, hewan-hewan (mereka) senantiasa memasang telinga antara waktu Shubuh sampai terbit matahari karena takut bila ditiup sangkakala pada hari tersebut. (Hadits shahih, riwayat Abū Dāwūd, Tirmidzi dan juga Nasā’i)

Bila terdengar, maka semua akan mencondongkan lehernya dan mengangkatnya.
Dan yang pertama kali mendengar adalah seorang laki-laki yang sedang memperbaiki penampungan air untuk minum untanya. Maka diapun mati dan matilah semua manusia.
(HR Muslim)

Waktu tersebut sangat singkat sehingga seseorang tidak akan sempat berwasiat dan tidak ada waktu kembali ke keluarganya, mereka meninggal di tempatnya masing-masing.

ﻣَﺎ ﻳَﻨﻈُﺮُﻭﻥَ ﺇِﻟَّﺎ ﺻَﻴْﺤَﺔًۭ ﻭَٰﺣِﺪَﺓًۭ ﺗَﺄْﺧُﺬُﻫُﻢْ ﻭَﻫُﻢْ ﻳَﺨِﺼِّﻤُﻮﻥَ ﴿٤٩﴾ ﻓَﻠَﺎ ﻳَﺴْﺘَﻄِﻴﻌُﻮﻥَ ﺗَﻮْﺻِﻴَﺔًۭ ﻭَﻟَﺂ ﺇِﻟَﻰٰٓ ﺃَﻫْﻠِﻬِﻢْ ﻳَﺮْﺟِﻌُﻮﻥَ ﴿٥٠﴾

“Mereka tidak menunggu melainkan satu teriakan saja yang akan membinasakan mereka ketika mereka sedang bertengkar. Lalu mereka tidak kuasa membuat satu wasiatpun dan tidak pula dapat kembali kepada keluarganya”.
(QS Yāsin: 49-50)

Di dalam Shahīh Bukhari disebutkan bahwa ada sebagian yang sudah mengangkat makanan ke mulutnya namun tidak sempat memakannya karena sudah ditiup sangkakala. Meninggallah seluruh manusia dan kerajaan hari itu adalah milik Allāh Subhānahu wa Ta’āla semata.

Ketahuilah, bahwa malaikat yang akan meniup sangkakala sekarang telah menaruh sangkakala di mulutnya, mengerutkan dahi, memasang telinganya, menunggu sewaktu-waktu diperintah oleh Allāh ‘Azza wa Jalla.
(Hadits shahih riwayat Tirmidzi)

Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam ketika mengabarkan para shahābat dengan kabar ini, Beliau shallallāhu ‘alayhi wa sallam menyeru shahābat untuk mengatakan:

حَسْبُنَا اللهُ ونِعْمَ الوَكِيْلُ عَلَى اللّهِ تَوَكَّلْنَا

“Cukuplah Allāh bagi kita dan Dialah sebaik-baik wakil, hanya kepada Allāh kita bertawakkal.” (HR Tirmidzi)

 

*Disampaikan oleh Ustadz Abdullah Roy, MA., Senin 2 Jumadil Awal 1438 H/30 Januari 2017, via Whatsapp Group HSI (Halaqah Silsilah Ilmiyyah).

 

Meninggalnya Orang-Orang Beriman Sebelum Hari Kiamat, Terbenamnya Tanah Secara Besar-Besaran Di Tiga Tempat Dan Keluarnya Api Dari Yaman

Silsilah Ilmiyyah 5.1: Beriman Kepada Hari Akhir
Halaqah ke 25

 

Sebelum terjadinya hari kiamat, Allāh Subhānahu wa Ta’āla akan mengirim angin yang mencabut nyawa semua orang yang beriman, sehingga tidak tersisa di dunia kecuali sejelek-jelek manusia.

Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

“Kemudian Allāh akan mengutus angin yang dingin dari arah Syām maka tidak ada seorangpun di bumi yang di dalam hatinya ada kebaikan atau iman meski sebesar biji sawi kecuali akan dicabut nyawanya oleh angin tersebut.

· Sampai seandainya salah seorang mereka masuk ke dalam gunung, niscaya angin tersebut akan masuk bersamanya dan mencabut nyawanya.

· Maka tersisalah sejelek-jelek manusia yang ringan berbuat kerusakan seperti ringannya burung dan mereka ganas dalam berbuat kezhaliman satu dengan yang lain seperti ganasnya hewan buas.

· Mereka tidak mengenal kebaikan dan tidak mengingkari kemungkaran.”

(Hadīts riwayat Muslim)

· Di dalam sebuah hadīts yang juga diriwayatkan oleh Imām Muslim disebutkan bahwasanya Allāh Subhānahu wa Ta’āla mengutus angin tersebut dari Yaman.

· Sebagian ulama mengatakan bahwasanya angin tersebut berasal dari 2 arah yaitu

⑴ Yaman
⑵ Syām

· Dan di antara tanda-tanda besar hari kiamat adalah akan terbenamnya tanah secara besar-besaran di tiga daerah:

⑴ Timur
⑵ Barat
⑶ Jazirah Arab

Sebagaimana datang di dalam hadīts,

“Dan termasuk tanda-tanda besar hari kiamat adalah munculnya api dari Yaman yang akan menggiring manusia ke tempat pengumpulan dan tempat dikumpulkannya manusia saat itu adalah Syām.”

Sebagaimana diriwayatkan oleh Al Imām Al Baihàqi di dalam Syu’abul Iman dan hadīts ini shahīh.

Dan Syām adalah daerah-daerah sekitar Masjidil Aqshā

Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda yang artinya,

“Sesungguhnya kalian akan dikumpulkan dalam keadaan

√ Berjalan kaki
√ Sebagian berkendaraan
√ Sebagian akan diseret di atas wajah-wajah mereka.”

(Hadīts shahīh riwayat Tirmidzi)

· Api ini akan senantiasa bersama mereka siang dan malam sehingga mereka sampai di tempat pengumpulan, sebagaimana bisa disimpulkan di dalam hadīts shahīh riwayat Bukhāri dan Muslim.

“Dan yang terakhir kali akan dikumpulkan adalah dua orang penggembala dari kabilah Muzainah.”

(Hadīts Bukhari Muslim).

Pengumpulan di sini berbeda dengan pengumpulan manusia setelah dibangkitkan dari kuburnya.

Pengumpulan di sini adalah di dunia untuk sebagian manusia.

Sedangkan pengumpulan setelah dibangkitkannya manusia adalah di akhirat untuk semua manusia.

Semoga Allāh Subhānahu wa Ta’āla memberikan keselamatan kepada kita semua di dunia dan di akhirat.

 

*Disampaikan oleh Ustadz Abdullah Roy, MA., Jumat 23 Rabi’ul Awwal 1438 H/23 Desember 2016, via WhatsApp Group HSI (Halaqah Silsilah Ilmiyyah).

 

Keluarnya Seekor Hewan Melata Dari Bumi Dan Keluarnya Asap

Silsilah Ilmiyyah 5.1: Beriman Kepada Hari Akhir
Halaqah ke 24

 

Termasuk tanda besar dekatnya hari kiamat adalah:

▪Keluarnya seekor hewan melata yang aneh dari bumi yang bisa berbicara dengan manusia.

Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:

وَإِذَا وَقَعَ الْقَوْلُ عَلَيْهِمْ أَخْرَجْنَا لَهُمْ دَابَّةً مِنَ الْأَرْضِ تُكَلِّمُهُمْ أَنَّ النَّاسَ كَانُوا بِآيَاتِنَا لَا يُوقِنُونَ

“Dan apabila telah datang keputusan atas mereka maka Kami akan keluarkan untuk mereka seekor hewan melata dari bumi yang akan berbicara kepada manusia bahwa manusia dahulu tidak yakin dengan ayat-ayat Kami.”

(Qs. An Naml: 82)

Hewan tersebut akan keluar diwaktu dhuha sebagaimana dalam Shahīh Muslim.

Dan dia akan menandai orang kafir di hidungnya sebagai tanda kekafirannya.

Maka manusia masing-masing akan dengan jelas mengetahui siapa yang mu’min dan siapa yang kafir.

Di dalam sebuah hadīts yang shāhih yang diriwayatkan oleh Imām Ahmad, Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda yang artinya:

“Akan keluar seekor hewan melata dan akan menandai manusia pada hidung-hidung mereka.”

Di antara tanda besar hari kiamat adalah,

▪Keluarnya asap.

Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:

ﻓَﺎﺭْﺗَﻘِﺐْ ﻳَﻮْﻡَ ﺗَﺄْﺗِﻲ ﺍﻟﺴَّﻤَﺎﺀُ ﺑِﺪُﺧَﺎﻥٍ ﻣُﺒِﻴﻦ. ﻳَﻐْﺸَﻰ ﺍﻟﻨَّﺎﺱَ ۖ ﻫَٰﺬَﺍ ﻋَﺬَﺍﺏٌ ﺃَﻟِﻴﻢٌ

“Maka tunggulah hari dimana langit akan membawa asap yang nyata yang menutupi manusia dan inilah adzab yang pedih.”

(Qs. Ad Dukhān:10-11)

Ibnu Abbas radhiyallāhu ‘anhumā berpendapat bahwa maksud ayat ini adalah:

√ Asap yang akan keluar di akhir zaman sebagai salah satu tanda dekatnya hari kiamat.

Dan,

√ Asap ini merupakan adzab dan siksaan bagi orang-orang kafir.

 

*Disampaikan oleh Ustadz Abdullah Roy, MA., Kamis 22 Rabi’ul Awwal 1438 H/22 Desember 2016, via WhatsApp Group HSI (Halaqah Silsilah Ilmiyyah).

 

Terbitnya Matahari Dari Barat

Silsilah Ilmiyyah 5.1: Beriman Kepada Hari Akhir
Halaqah ke 23

 

Matahari setiap harinya meminta izin kepada Allāh untuk terbit dari timur.

Sampai ketika sudah waktunya maka Allāh Subhānahu wa Ta’āla tidak mengizinkan matahari untuk terbit dari timur.

Dan menyuruhnya kembali dari tempat dia datang, yaitu arah barat.

Akhirnya terbitlah matahari dari barat.

(Hadīts ini shahīh diriwayatkan oleh Al-Imām Al-Bukhari rahimahullāh)

Terbitnya matahari dari barat adalah termasuk tanda-tanda besar dekatnya hari kiamat.

Apabila manusia melihatnya, maka mereka akan beriman semuanya dan akan yakin bahwa kiamat memang sudah dekat.

Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:

هَلۡ يَنظُرُونَ إِلَّآ أَن تَأۡتِيَهُمُ ٱلۡمَلَـٰٓٮِٕكَةُ أَوۡ يَأۡتِىَ رَبُّكَ أَوۡ يَأۡتِىَ بَعۡضُ ءَايَـٰتِ رَبِّكَ‌ۗ يَوۡمَ يَأۡتِى بَعۡضُ ءَايَـٰتِ رَبِّكَ لَا يَنفَعُ نَفۡسًا إِيمَـٰنُہَا لَمۡ تَكُنۡ ءَامَنَتۡ مِن قَبۡلُ أَوۡ كَسَبَتۡ فِىٓ إِيمَـٰنِہَا خَيۡرً۬ا‌ۗ قُلِ ٱنتَظِرُوٓاْ إِنَّا مُنتَظِرُونَ

“Tidaklah mereka menunggu kecuali kedatangan para malaikat (yaitu malaikat maut) atau kedatangan Allāh atau kedatangan sebagian tanda-tanda kebesaran Allāh.

Hari ketika datang sebagian tanda-tanda kebesaran Tuhan-mu, tidak akan bermanfaat iman seseorang yang tidak beriman sebelumnya atau belum beramal kebaikan di dalam imannya. Katakanlah, “Tunggulah, sesungguhnya kita juga menunggu.”

(QS Al An’ām 158)

Di dalam hadits yang diriwayatkan oleh Bukhāri dan Muslim, Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam menafsirkan bahwa tanda kebesaran Allāh di dalam ayat ini adalah terbitnya matahari dari barat.

Saat itu,
√ Orang kafir bertaubat dari kekafirannya.
√ Orang yang beriman yang sebelumnya menyia-nyiakan amal shalih maka dia akan bertaubat dan beramal shalih.

Namun pintu taubat di kala itu sudah tertutup dan amal tidak akan diterima karena dilakukan di saat terpaksa.

Kecuali orang mukmin yang sebelum munculnya matahari dari barat sudah beriman dan beramal shalih, maka amalannya akan diterima.

Oleh karena itu, seorang muslim hendaknya segera bertaubat kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla dari segala dosa, bagaimanapun besar dosa yang dia miliki dan jangan menundanya.

Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda,

مَنْ تَابَ قَبْلَ أَنْ تَطْلُعَ الشَّمْسُ مِنْ مَغْرِبِهَا تَابَ اللَّهُ عَلَيْهِ

“Barang siapa yang bertaubat sebelum terbitnya matahari dari barat, maka Allāh Subhānahu wa Ta’āla akan menerima taubatnya.”

(HR Muslim)

 

*Disampaikan oleh Ustadz Abdullah Roy, MA., Rabu 21 Rabi’ul Awwal 1438 H/21 Desember 2016, via WhatsApp Group HSI (Halaqah Silsilah Ilmiyyah).

 

Keadaan Islam Setelah Meninggalnya Nabi Isa Dan Munculnya Tanda-Tanda Besar Hari Kiamat Yang Lain

Silsilah Ilmiyyah 5.1: Beriman Kepada Hari Akhir
Halaqah ke 22

 

Setelah jaya di zaman Nabi ‘Īsā ‘alayhissalām, melemahlah Islam kembali sedikit demi sedikit dan akan diangkat Al Qurān.

Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda yang artinya:

“Islam akan hilang sedikit demi sedikit seperti hilangnya lukisan pada pakaian, sehingga tidak diketahui apa itu puasa, shalāt, menyembelih, dan juga shadaqah.

Akan pergi Al Qurān dalam satu malam sehingga tidak tersisa satu ayat pun.
Dan akan ada beberapa kelompok manusia laki-laki tua dan wanita tua mereka mengatakan:

‘Kami mendapatkan nenek moyang kami dahulu diatas kalimat “Lā ilāha illallāh”.’
Maka kamipun mengatakannya.”
(Hadits shahīh riwayat Ibnu Mājah).

“Akan datang masa dimana banyak perzinaan dilakukan secara terang-terangan dipingir jalan.” (HR. Muslim)

“Tidak ada Haji ke Baitullāh.” (HR. Bukhāri)

Dan,

“Ka’bah akan dihancurkan oleh sebagian orang.” (HR. Muslim)

Manusia akan kembali ke zaman jahiliyyah, bahkan lebih parah.
Akan kembali tersebar penyembahan terhadap berhala dan merekalah orang-orang yang akan menyaksikan dahsyatnya hari kiamat.

Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

لاَ تَقُومُ السَّاعَةُ إِلاَّ عَلَى شِرَارِ الْخَلْقِ هُمْ شَرٌّ مِنْ أَهْلِ الْجَاهِلِيَة

“Tidak akan bangkit hari kiamat kecuali atas orang-orang yang paling jelek yang mereka lebih jelek dari pada orang-orang yang hidup di zaman jahiliyyah”.
(HR Muslim)

Urutan tanda-tanda besar Hari Kiamat sampai meningalnya Nabi ‘Īsā ‘alayhissalām jelas di dalam hadits-hadits yang shahīh.

Demikian pula tanda terakhir yaitu keluarnya api yang menggiring manusia ke mahsyar (tempat pengumpulan).

Adapun 6 tanda yang lain;
⑴ Terbitnya matahari dari barat
⑵ Keluarnya hewan melata dari bumi
⑶ Keluarnya asap.

Tiga khasf, yaitu tenggelamnya sebagian tanah:
⑷ Di barat
⑸ Di timur
⑹ Dan di Jazirah Arab

Maka Allāhu A’lam tentang urutan yang benar bagi 6 tanda ini, hanya Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam telah mengabarkan bahwasanya:

“Antara terbitnya matahari dari barat dan keluarnya seekor hewan melata dari bumi ini jaraknya sangat dekat. Apabila salah satu dari keduanya muncul maka yang lain akan segera muncul.”
(HR Muslim)

 

*Disampaikan oleh Ustadz Abdullah Roy, MA., Selasa 20 Rabi’ul Awwal 1438 H/20 Desember 2016, via WhatsApp Group HSI (Halaqah Silsilah Ilmiyyah).

 

Ya’juj Dan Ma’juj (2)

Silsilah Ilmiyyah 5.1: Beriman Kepada Hari Akhir
Halaqah ke 21

 

Ya’jūj dan Ma’jūj keluar setelah binasanya Dajjāl.

Allāh Subhānahu wa Ta’āla mewahyukan kepada Nabi ‘Īsā ‘alayhissalām:

إِنِّي قَدْ أَخْرَجْتُ عِبَادًا لِي لَا يدَان لِأَحَدٍ بِقِتَالِهِمْ ، فَحَرِّزْ عِبَادِي إِلَى الطُّورِ

“Sesungguhnya Aku telah mengeluarkan hamba-hambaKu (yaitu Ya’jūj dan Ma’jūj) yang tidak seorang pun bisa melawan mereka. Maka kumpulkanlah hamba-hambaKu (yaitu kaum muslimin) ke gunung Thūr.”
(HR. Muslim )

Jumlah mereka sangat banyak.

Ketika orang-orang yang ada di bagian depan melewati sebuah sungai dan meminumnya maka yang berada di akhir tidak mendapatkan air tersebut dan mengatakan:

“Dahulu di sini ada airnya.” (HR. Muslim)

Manusia lari dari Ya’jūj dan Ma’jūj dan bersembunyi di benteng-benteng mereka.

Setelah banyak membuat kerusakan di muka bumi maka Ya’jūj dan Ma’jūj berkata:

“Kita telah membunuh penduduk bumi maka marilah kita membunuh penduduk langit.”

Mereka pun mengarahkan anak panah mereka ke langit, kemudian Allāh Subhānahu wa Ta’āla mengembalikan anak panah mereka tersebut ke bumi dalam keadaan berlumuran darah.

Mereka pun mengatakan:

“Kita telah mengalahkan penduduk langit.”
(Hadits shahīh, riwayat Tirmidzi dan Ibnu Mājah)

Ya’jūj dan Ma’jūj mengepung Nabi ‘Īsā ‘alayhissalām salam dan para sahabatnya di gunung Thūr. Akhirnya beliau berdo’a kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla maka Allāh menurunkan ulat di leher-leher Ya’jūj dan Ma’jūj, meninggal lah mereka dalam satu waktu.

Kemudian turunlah Nabi ‘Īsā ‘alayhissalām dan pengikutnya dan mereka tidak mendapatkan satu jengkal tanah kecuali di situ ada bangkai Ya’jūj dan Ma’jūj.

Mereka pun meminta kepada Allāh supaya Allāh Subhānahu wa Ta’āla membersihkan. Akhirnya Allāh Subhānahu wa Ta’āla mengirimkan burung yang membawa bangkai-bangkai mereka.

Kemudian Allāh Subhānahu wa Ta’āla menurunkan hujan yang membersihkan bumi.
(Hadits shahīh, riwayat Muslim)

Dalam hadits shahīh yang lain yang diriwayatkan oleh Ibnu Mājah, Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda :

“Kaum muslimin akan menggunakan bekas busur, anak panah dan tameng kayu Ya’jūj dan Ma’jūj sebagai kayu bakar selama tujuh tahun.”

Ini menunjukkan banyaknya jumlah Ya’jūj dan juga Ma’jūj.

 

*Disampaikan oleh Ustadz Abdullah Roy, MA., Senin 19 Rabi’ul Awwal 1438 H/19 Desember 2016, via WhatsApp Group HSI (Halaqah Silsilah Ilmiyyah).