Memelihara Burung

Pertanyaan :
Terkait dengan Akhlaq Mulia, apakah memelihara burung dalam kurungan termasuk Akhlaq Mulia atau Akhlaq Buruk ? Karena saya perhatikan banyak orang Islam yang memelihara burung. Apakah dilarang agama atau tidak ? Padahal burung lebih suka hidup bebas lepas di alam terbuka. Apakah itu sudah melanggar hablum minal ‘alam ?

Jawaban :
Islam adalah agama yang sempurna, mengatur semua sisi kehidupan kita, mencukupkan semua kebutuhan hidup kita, untuk mencapai bahagia di dunia dan akhirat.

Termasuk bagian dari kesempurnaan Islam itu, adalah adanya ajaran Akhlaq (moral, budipekerti, tata krama).

Akhlaq merupakan salah satu dari tiga rukun agama kita, yaitu; ‘Aqidah, Syari’ah, Akhlaq. Ketiganya harus kita miliki sebagai bagian dari kesempurnaan Islam kita.

Di dalam Akhlaq ada adab-adab dalam kita menjalani kehidupan dan pergaulan; apakah itu dengan sesama manusia, dengan sesama muslim, dalam keluarga, dengan lingkungan, dengan alam, dengan hewan dan semua makhluq ciptaan Allah. Tuntunannya dijelaskan di dalam Al-Qur’an dan Sunnah, serta dicontohkan langsung oleh Rasulullah SAW sebagai Uswah Hasanah (suri teladan yang baik). Begitu juga dalam kehidupan para sahabat, dan ulama shalihin teladan umat. Itulah rujukan kita, tuntunan kita, yang tak boleh kita lepaskan, dan hendaklah selalu menjadi concern kita dalam kehidupan.

Sebagaimana dijelaskan di atas, dalam agama kita semua ada akhlaq dan adabnya, termasuk terhadap hewan.

Terkait hukum memelihara burung, dijelaskan para ulama, bahwa selama dirawat dengan baik, dan kebutuhan pokoknya dipenuhi (terutama makan minum dan tempatnya), serta tidak dizhalimi, maka hal itu dibolehkan.

Ada hadits yang dijadikan dasar, bahwa Rasulullah SAW tidak melarang sahabatnya memelihara burung, diantaranya dikisahkan Anas RA;
“Rasulullah SAW adalah manusia yang paling baik akhlaknya. Saya memiliki seorang adik lelaki, dia disapa dengan Abu Umair, usianya mendekati usia baru disapih. Jika Rasulullah SAW, datang (kepada kami), beliau memanggil (dengan bahasa yang bercanda);

يَا أَبَا عُمَيْرٍ، مَا فَعَلَ النُّغَيْرُ
“Wahai Abu Umair, ada apa dengan Nughair?’
(HR. Bukhari dan Muslim)

Ulama hadits yang mensyarahkan Shahih Bukhari, Al-Hafizh Ibn Hajar menyebutkan ada beberapa pelajaran dan hukum yang disimpulkan dari hadits ini, diantaranya: “Kebolehan memelihara burung dalam sangkar atau yang sejenisnya.”

Selain kandungan hukum di atas, hadits ini juga menjelaskan bahwa, betapa Rasulullah SAW menyayangi dan menghargai anak kecil, dengan memanggil saudara Anas yang masih kecil tersebut dengan sapaan “Abu Umair”.
“Abu”, dalam konteks ini adalah kata yang digunakan untuk memberi gelar penghormatan pada seseorang. “Umair” adalah bentuk kata tashghir (kecil) dari Umar. Dengan disapa menggunakan panggilan tersebut si anak merasa sangat dihargai dan “tersanjung”.
“Nughair” adalah kata bentuk tashghir (kecil) dari Naghar, yaitu jenis burung yang dijadikan mainan oleh adik Anas tersebut. Penggunaan kata ini merupakan salah satu sisi dari keindahan bahasa Rasul SAW yang sekaligus mengandung canda.

Wallahu a’lam.

 

*Dijelaskan oleh Ustadz Dr. Umar Al Haddad, MA (Qur’an Learning Centre), tanggal 11 Januari 2016, via Group Whatsapp Komunitas QLC.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s