Menghajikan Orang Tua

Pertanyaan :
Siapakah yang mesti diprioritaskan dulu untuk berhaji, diri kita sendiri apa orang tua kita jika dana kita terbatas ?

Jawaban :
Yang diprioritaskan adalah yang bersangkutan berhaji lebih dahulu. Jika ia sudah haji lalu memiliki kemampuan menghajikan orangtua, barulah ia menghajikan orangtuanya, dan itu termasuk Birrul Walidain (bakti pada orangtua) yang utama.
Namun bagaimana jika terlanjur menghajikan orangtua sedangkan ia belum haji ? Haji orangtuanya tetap sah, namun bagi si anak yang belum haji, hal itu bukan yang lebih diperintahkan.
Sebab, Haji adalah fardhu ‘ain (kewajiban individu) yang sifatnya harus disegerakan. Maka apabila seseorang telah mampu dan memenuhi syarat wajibnya, hendaklah ia bersegera menunaikannya. Tidak boleh ia menundanya (kecuali karena masalah diluar kekuasaannya seperti antrian kuota dan sebagainya). Dalam hadits disebutkan, “Bersegeralah menuju Makkah (menunaikan haji), karena tiap kamu tidak mengetahui apa yang akan dihadapinya kelak, apakah sakit atau ada kebutuhan lain” (HR. Baihaqi). Ada beberapa hadits lain yany maknanya senada.

Sedangkan Haji Badal (pengganti), itu untuk yang telah wafat, atau tidak mampu menunaikannya secara fisik karena sakit yg sifatnya relatif tetap (Istilahnya “Badal”, bukan Ba’dal).

 

Pertanyaan :
Mengapa membiayai berangkat haji orang tua adalah bukan yang lebih utama ? Bukankah dalam hadits-hadits banyak dibahas pentingnya berbakti untuk orang tua ?

Jawaban :
Maksudnya, bagi anak yang belum pernah haji, yang uangnya terbatas hanya cukup buat berhaji dirinya, maka lebih utama ia haji dulu. Jika ada kemampuan lagi, baru menghajikan orangtuanya. Namun jika si anak sudah pernah haji sekali, maka lebih utama ia menghajikan orangtuanya daripada ia berhaji untuk kedua kalinya. Demikian menurut mayoritas ulama, berdasarkan hadits yang saya kutip tadi dan beberapa hadits semakna.
Tadi telah saya jelaskan bahwa Haji adalah fardhu ‘ain (kewajiban individu bagi tiap muslim yang mampu) yang sifatnya harus disegerakan.
Haji itu wajib bagi yang mampu. Orangtua, jika tidak mempunyai kemampuan, tidak wajib untuk pergi haji. Si anak, jika mempunyai kemampuan, wajib baginya pergi haji, jika ditunda-tunda malah berdosa. Ini untuk haji yang wajib, yaitu yang pertama kali, dan haji itu wajib bagi yang mampu, sekali seumur hidup.
Dalam hadits yang lain, diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas RA bahwasanya Rasulullah SAW mendengar seseorang berkata (saat menunaikan haji); “Labbaika ‘an Syubramah!” (Kupenuhi panggilan-Mu ya Allah, atas nama Syubramah). Mendengar suara tersebut, Rasul SAW bertanya; “Siapa itu Syubramah?” Jawabnya; “Dia saudaraku”. (Dalam riwayat lain; “Dia kerabatku”). Lalu Rasulullah SAW bertanya lagi; “Apakah engkau telah berhaji atas nama dirimu?”. Jawabnya: “Belum”. Kemudian Rasulullah SAW bersabda; “Maka berhajilah dulu atas dirimu, kemudian hajikanlah Syubramah.” (HR. Ahmad, Abu Dawud, Ibn Majah, dishahihkan oleh Ibnu Hibban dan Baihaqi)

 

Pertanyaan :
Bagaimana hukumnya kalau membadalkan orang tua dengan mengupahkan ke orang lain ?

Jawaban :
Haji Badal dibolehkan dengan syarat; yang di-badal-kan telah wafat atau tidak mampu menunaikannya secara fisik karena sakit yang relatif tetap. Selain itu orang yang melakukannya disyaratkan telah haji. Bisa diupahkan ke orang lain, asal yang melakukan telah haji. Banyak hadits yang mendasari Haji Badal, khususnya Haji Badal untuk orangtua yang belum sempat berhaji. Di antaranya hadits riwayat Bukhari-Muslim, dimana Rasul SAW memerintahkan seorang perempuan yang ayahnya telah wafat; “Haji-kanlah ayahmu !

Dalam hal seorang anak belum haji, namun ia dapat mengupahkan Haji Badal untuk orangtuanya, maka itu dibolehkan. Namun jika ia yang secara langsung melakukan Haji Badal untuk orangtuanya, tentu disyaratkan anak tersebut telah haji lebih dahulu, sesuai syarat-syarat Haji Badal.

 

Pertanyaan :
Apakah haji badal itu harus yang mempunyai niat berhaji saat masih hidup ?

Jawaban :
Tidak mesti diniatkan semasa hidup yang bersangkutan. Meski tidak diniatkan, kalau belum haji, tetap dianjurkan untuk dilaksanakan Haji Badal atasnya.
Namun menurut sebagian ulama, jika seseorang semasa hidupnya telah ber-wasiat untuk di-hajikan, dan harta yang ditinggalkannya cukup untuk meng- hajibadal-kannya, maka wajib bagi ahli waris untuk memenuhinya.
Wallahu a’lam.

 

*Dijelaskan oleh Ustadz Dr. Umar Al Haddad, MA (Qur’an Learning Centre), tanggal 5 Januari 2016, via Group Whatsapp QLC.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s