Bolehkah Menggunakan Rebana ?

Pertanyaan :
Saya mohon diyakinkan sekali lagi tentang penggunaan Rebana pada waktu kita melantunkan puli-pujian/sholawat, boleh atau tidak ? Saya bingung harus ikut yang mana karena pengajian di kampung saya ada yang membolehkan dan ada yang tidak.

Jawaban :
Sebagaimana yang mungkin sudah didengar, masalah menabuh rebana (duff) itu ada perbedaan pendapat di kalangan ulama; ada yang melarang, ada juga yang membolehkan.

Singkatnya :
Pendapat yang melarang, menganggapnya termasuk dalam larangan bermain alat musik secara keseluruhan, karena alat musik itu dianggap sebagai “aalaat al-lahw (perangkat yang melalaikan)“. Di sini yang perlu diperhatikan, alasan pelarangannya sebagai “alat yang melalaikan” (kalau kita perhatikan, ukuran “melalaikan” itu akan sangat ditentukan oleh isi lagu dan cara menampilkannya).

Sedangkan pendapat yang membolehkan; merujuknya pada isyarat kebolehan yang terdapat di dalam hadits-hadits Rasul SAW, baik yang mengecualikan rebana (duff) sebagai alat musik yang dibolehkan, maupun yang mengisyaratkan kebolehan musik secara umum dengan syarat tidak disertai muatan yang haram.

Saya cenderung pada pendapat yang kedua, yakni yang membolehkan rebana, karena adanya petunjuk di dalam hadits-hadits shahih yang membolehkannya. Tentu dalam hal ini, kebolehannya tetap terikat dengan syarat tidak memuat atau menimbulkan hal-hal yang haram, terutama dalam isi lagu yang dinyanyikan, dan cara yang ditampilkan.

Berikut ini saya copy-paste beberapa hadits yang memberi isyarat kebolehan menggunakan rebana.

عَنْ عَائِشَةَ ، أَنَّ أَبَا بَكْرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ ” دَخَلَ عَلَيْهَا وَعِنْدَهَا جَارِيَتَانِ فِي أَيَّامِ مِنًى تُغَنِّيَانِ وَتُدَفِّفَانِ وَتَضْرِبَانِ ، وَالنَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مُتَغَشٍّ بِثَوْبِهِ فَانْتَهَرَهُمَا أَبُو بَكْرٍ فَكَشَفَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ وَجْهِهِ ، فَقَالَ : دَعْهُمَا يَا أَبَا بَكْرٍ فَإِنَّهَا أَيَّامُ عِيدٍ وَتِلْكَ الْأَيَّامُ أَيَّامُ مِنًى

Dari ‘Aisyah RA, bahwasanya pada hari Mina, Abu Bakar datang ke rumahnya, sedangkan di dekatnya ada dua wanita (hamba sahaya) yang bernyanyi dan bermain rebana, sedangkan Nabi SAW menutupi wajahnya dengan pakaiannya, lalu Abu Bakar membentak kedua wanita (yang bermain rebana tadi), maka Nabi SAW membuka wajahnya dan bersabda, “Biarkanlah keduanya hai Abu Bakar, karena ini adalah hari raya. Dan hari itu adalah hari-hari Mina” (HR. Bukhari no.3288).

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ ، أَنّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ” مَرَّ بِبَعْضِ الْمَدِينَةِ ، فَإِذَا هُوَ بِجَوَارٍ يَضْرِبْنَ بِدُفِّهِنَّ وَيَتَغَنَّيْنَ وَيَقُلْنَ : نَحْنُ جَوَارٍ مِنْ بَنِي النَّجَّارِ يَا حَبَّذَا مُحَمَّدٌ مِنْ جَارِ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ” يَعْلَمُ اللَّهُ إِنِّي لَأُحِبُّكُنَّ ”

Dari Anas bin Malik RA, bahwasanya Nabi SAW pernah melewati salah satu bagian dari kota Madinah, tiba-tiba beliau melewati para wanita yang memukul rebana dan bernyanyi (memujinya sebagai Rasulullah), mereka mengucapkan, “Kami tetangga dari Bani Najjar, alangkah beruntungnya (kami) Muhammad sebagai tetangga“. (Mendengar itu) maka Nabi SAW bersabda, “Allah mengetahui bahwa aku mencintai kalian.” (HR. Ibnu Majah, no. 1899)

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا ، قَالَتْ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ” أَعْلِنُوا النِّكَاحَ ، وَاجْعَلُوهُ فِي الْمَسَاجِدِ ، وَاضْرِبُوا عَلَيْهِ بِالدُّفُوفِ

Dari ‘Aisyah RA, dia berkata; Telah bersabda Rasulullah SAW; “Umumkanlah pernikahan itu, laksanakanlah ia di masjid, dan pukullah rebana padanya (pelaksanaan pernikahan itu).” (HR. Tirmidzi no.1005 dan Ibn Majah no.1885). At-Tirmidzi menyebut hadits ini Gharib Hasan.

Berpijak pada petunjuk hadits-hadits tersebut, dan lainnya yang senada, maka banyak ulama yang membolehkan penggunaan rebana, bahkan musik secara umum asal tidak memuat isi dan cara-cara yang diharamkan.

Dalam konteks puji-pujian dan shalawat kepada Nabi SAW, jika iringan rebana/gendang itu dapat membuat orang yang menyanyikan dan mendengarkannya lebih dekat pada Allah dan Rasul-Nya, maka tidak mengapa, bahkan memberikan kebaikan.
Namun jika sampai menimbulkan hal-hal yang diharamkan, justru itu menjadi terlarang pula. Wallahu a’lam.

 

*Dijelaskan oleh Ustadz Dr. Umar Al Haddad, MA (Qur’an Learning Centre), tanggal 22 Juli 2015, via Group Whatsapp QLC.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s