Peretas Jaringan dan Data Komputer

Pertanyaan :
Di kalangan IT ada yang namanya peretas jaringan dan data komputer. Tak jarang para peretas, merusak tampilan web milik orang lain. Bahkan ada yang mencuri data atau membobol rekening.

Lalu apakah hukumnya dalam Islam untuk kegiatan para peretas komputer tersebut ?

Jawaban :
Peretasan (hacking) itu sepertinya mempunyai pengertian yang relatif luas sebagai salah satu kemampuan “mengutak-atik” program teknologi informasi. Latar belakang dan tujuannya bisa beragam, ada yang positif (misalnya untuk menggagalkan suatu kejahatan/kemudharatan), bisa juga yang negatif (misalnya untuk mencuri hak orang lain, membobol rekening, dan sebagainya daripada kemunkaran).

Maka, hukumnya akan tergantung pada latar belakang, niat, dan tujuannya.

Dalam fiqh ada qa’idah
Lil Wasa’il Hukmul Maqashid
(hukum suatu sarana/perantara tergantung pada hukum maksud yang dituju).

Jadi, kalau niat dan tujuannya untuk mencuri hak orang lain, menciptakan kemudharatan, atau melakukan kemunkaran lainnya, maka Haram hukumnya.
Namun, jika niat dan tujuannya untuk menghalangi kejahatan/kemudharatan, menghindari bahaya/bencana bagi orang banyak (dengan tanpa melanggar aturan, misalnya dengan kerjasama dengan penegak hukum), maka itu dibolehkan.
Wallahu a’lam.

Note:
Data/informasi di internet itu kan ada yang terbuka untuk publik, ada juga yang terproteksi (hanya untuk orang yang diizinkan, dengan password, security, dan sebagainya). Kategori data yang terproteksi ini sama juga halnya dengan “safety box” yang tidak boleh dibuka kecuali oleh atau dengan izin pemiliknya. Hukumnya sama.

Seandainya data/informasi itu tidak terproteksi, maka berarti ia boleh diakses/diambil oleh publik, karena pada dasarnya setiap orang yang mempublikasikan data/informasi di internet memaklumi bahwa yang di-publish-nya tersebut akan dapat diakses oleh semua orang. Tinggal bagi yang mengakses, berlaku hukum; apa yang haram, dan apa yang halal diakses/dilihat/diikuti sesuai panduan Syari’at.
Agama juga mengajarkan agar kita berhati-hati (ihtiyath) terhadap yang mubah (boleh), karena bisa jadi yang sikap permisif berlebihan pada yang mubah itu bisa mencampakkan kita pada yang makruh, bahkan yang haram.
Wallahu a’lam.

 

*Dijelaskan oleh Ustadz Dr. Umar Al Haddad, MA (Qur’an Learning Centre), tanggal 5 Agustus 2015, via Group Whatsapp QLC.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s