Usaha Bagi Hasil

Pertanyaan :
Mohon pencerahannya, apakah dibenarkan bila kita berinvestasi dengan kondisi sebagai berikut :

Semisal, saya punya uang 1 juta, kemudian ada teman yang menawarkan jika uang tersebut diinvestasikan di usahanya (bengkel) selama 6 bulan maka akan mendapatkan pembagian keuntungan prosentase 10% TETAP setiap bulan.
Saya dari awal tidak menentukan besarnya prosentase pembagian keuntungan.

  1. Apakah skema tersebut termasuk dalam RIBA karena yang pernah saya ketahui dalam hukum syariah hanya mengenal sistem BAGI HASIL, dimana dalam dunia bisnis keuntungan bersifat TIDAK TETAP, maka porsi bagi hasilnya pun bersifat tidak tetap (turun naik).
    Dalam kondisi fix baik usaha untung maupun rugi maka teman tetap harus memberi keuntungan 10% (jika rugi, pasti dia terdzolimi).
  2. Jika skema tersebut masuk kategori riba, apakah cukup meng-halal-kannya dengan menyatakan diawal bahwa yang menentukan besarnya pembagian bukan saya dan dia tidak akan terdzolimi jika usaha rugi namun tetap memberi keuntungan untuk saya sebesar 10%.

Jawaban :
Perihal yang ditanyakan tersebut :

  1. Itu tidak dapat disebut Mudharabah (usaha bagi hasil). Sebab dalam Mudharabah disyaratkan ada kesepakatan kedua belah pihak tentang pembagian persentase (nisbah) keuntungan. Jika rugi tentu saja juga ditanggung bersama, tidak ada pengembalian pada pihak pemodal.
    Maka, kalau salah satu tidak menyepakati perjanjian persentase pembagian keuntungan tersebut, itu bukan Mudharabah namanya, tapi hanya menjadi pinjaman (hutang). Jadi, yang diberikan 10% tiap bulan itu adalah pembayaran hutang. Dapat diteruskan sampai hutang lunas, dengan tanpa tambahan sedikitpun. Tidak dihukumi Riba, kecuali jika ada kesepakatan yg mensyaratkan tambahan dalam pengembalian hutang tersebut. Prinsipnya, jika hutang harus dibayar dg tambahan bunga maka itu riba.
  2. Solusinya, bisa dengan memperbarui kesepakatan (akad) dengan teman tersebut, ada 2 pilihan :
  • Mengubahnya menjadi akad hutang, sehingga tinggal dilunasi, tiap bulan dicicil sesuai kesepakatan, atau;
  • Membuat perjanjian (akad) Mudharabah yang baru, yang menyepakati secara jelas tentang pembagian persentase keuntungan jika usaha mengalami keuntungan. Jika rugi, sudah jelas tidak ada pembagian keuntungan.

Persentase (nisbah) bagi hasil, justru harus fixed antara kedua belah pihak dalam satu akad. Yang tidak boleh fixed itu nominal nya.

Wallahu a’lam.

 

*Dijelaskan oleh Ustadz Dr. Umar Al Haddad, MA (Qur’an Learning Centre), tanggal 18 Agustus 2015, via Group Whatsapp QLC.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s