Orang Miskin Yang Berqurban

Pertanyaan :

  • Apa hukumnya qurban terkait dengan orang miskin yang berqurban ?
  • Apakah batasannya seseorang yang dikategorikan orang yang dianjurkan berqurban ?
  • Bagaimana dengan orang kaya tetapi pelit, mereka tidak mau berqurban ?

Jawaban :
Ini beberapa masalah tentang qurban yang ditanyakan tersebut :

  • Orang yang faqir miskin tidak diwajibkan ber-qurban. “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai kesanggupannya.” (QS. Al-Baqarah [2] : 286).
  • Jika harta yang dimilikinya diperlukan untuk nafkah sehari-hari, maka adalah lebih baik ia gunakan untuk nafkahnya, agar tidak menimbulkan mudharat baginya. Qa’idah fiqh yang terambil dari hadits berbunyi; “Tidak boleh menimbulkan mudharat untuk diri sendiri dan orang lain.
  • Namun jika ada orang faqir miskin berqurban, qurbannya sah sesuai niatnya. InsyaAllah termasuk dalam isyarat hadits; “(Kadangkala) satu dirham mengalahkan seratus ribu dirham.” (HR. An-Nasa’i & Ahmad). Mengapa demikian ? Karena bisa jadi yang mengeluarkan satu dirham, dia hanya punya harta dua dirham. Sedangkan yang mengeluarkan seratus ribu dirham, dia memiliki ratusan ribu dirham. Faktor lainnya, soal “keikhlasan”. Keikhlasan akan sangat menentukan nilai dirham yang dikeluarkannya.
  • Tentang hukum Qurban, berdasarkan hadits-hadits yang ada para ulama berbeda pendapat, antara yang menyimpulkan Wajib atau Sunnah Mu’akkadah (sangat dianjurkan) bagi yang memiliki kemampuan/kelapangan.

Para ulama juga berbeda dalam menetapkan parameter kemampuan/kelapangan itu :

  • Ulama Syafi’iyyah mengemukakan; minimal ia memiliki kemampuan nafkah di hari raya dan hari-hari tasyriq untuk dirinya dan keluarga/tanggungannya. Inilah pendapat yang hemat saya lebih kuat.
  • Ulama Hanabilah; ukurannya ia mampu membeli hewan qurban tersebut (diluar kebutuhan pokoknya), meskipun dengan berhutang.
  • Kalangan Hanafiyyah menyebutkan; minimal ia memiliki harta lebih sejumlah nishab zakat mal diluar kebutuhan pokoknya.
  • Ulama Malikiyyah menambahkan, ia memiliki kelebihan harta di luar kebutuhan pokoknya, yang tidak diperlukannya dalam satu tahun itu.

Dalam hadits, juga diingatkan, “Siapa yang memiliki kelapangan sedangkan ia tidak berqurban, maka janganlah ia mendekati tempat shalat kami.” (HR. Ahmad, Ibn Majah & Al-Hakim)

Demikian. Wallahu a’lam.

 

*Dijelaskan oleh Ustadz Dr. Umar Al Haddad, MA (Qur’an Learning Centre), tanggal 12 Agustus 2015, via Group Whatsapp QLC.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s