Penggunaan Nama Suami Dibelakang Nama Istri

Pertanyaan :
Benarkah pernyataan di bawah ini :

image
Jawaban :
Pendapat yang di-sharing tersebut mewakili salah satu pendapat, dari tiga pendapat para ulama dalam masalah tersebut (tentang penggunaan nama suami di belakang nama istri). Pendapat tersebut dikeluarkan oleh Lembaga Fatwa Kerajaan Saudi.

Adapun Pendapat yang Kedua; Itu dibolehkan jika maksudnya hanya untuk “identifikasi” saja, bukan untuk menunjukkan nasab. Untuk identifikasi nama ini, biasanya sangat terkait dengan kultur dan komunitas tertentu. Pendapat ini dikemukakan oleh Lembaga Fatwa Dar al-Ifta’ Mesir (Syaikh ‘Ali Jumu’ah dan lain-lain).

Pendapat yang Ketiga; Itu dibolehkan jika darurat, maksudnya jika diharuskan oleh negara/otoritas tempat tinggalnya. Misalnya untuk administrasi kependudukan dan sebagainya. Pendapat ini didukung oleh beberapa ulama Al-Azhar, Mesir.

Perbedaan pendapat disini muncul karena memang yang dilarang secara tegas dalam nash-nash Al-Qur’an dan hadits itu, adalah “menisbahkan” atau menyebutkan nasab pada yang bukan ayah sebenarnya. Sedangkan penyertaan nama belakang pada sebagian kultur dan komunitas itu tidaklah dimaksudkan sebagai penyebutan nasab (ayah) isteri, melainkan hanya untuk identifikasi saja. Dalam rangka identifikasi tersebut, bisa jadi yang disertakan itu nama ayah, atau bisa juga nama suami, nama kakek, nama keluarga, nama kampung, atau nama yang lainnya yang tidak bertentangan dengan Syara’.

Perhatikan saja bunyi hadits yang dikutip tersebut, diawali dengan, “Barang siapa yang bernasab kepada selain ayahnya …”
Maka, yang sudah jelas dilarang itu; kalau penyertaan nama belakang itu dipahami orang secara pasti sebagai nama ayah, padahal itu bukan ayah. Misalnya dengan menyertakan kata tambahan Bin/Binti pada yang bukan ayah kandungnya. Atau ia hidup di tengah masyarakat yang memahami nama belakang itu pasti nama ayah kandung.

Nah, sekarang kalau kita kembalikan pada kultur kita di Indonesia, penyertaan nama belakang itu tidaklah secara mutlak dipahami sebagai penyebutan nama ayah kecuali kalau diselingi kata Bin/Binti. Maka jika demikian, tidaklah masalah jika dimaksudkan hanya untuk identifikasi saja, sebagaimana dijelaskan pendapat kedua di atas. Wallahu a’lam.

 

*Dijelaskan oleh Ustadz Dr. Umar Al Haddad, MA (Qur’an Learning Centre), tanggal 26 Agustus 2015, via Group Whatsapp QLC.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s