Hukum Membaca Al Qur’an Bagi Wanita Haidh

Pertanyaan :
Bagaimana hukumnya wanita haid membaca Al Qur’an ?
Ada beberapa pendapat bertentangan yang masing-masing mengungkapkan dalilnya seperti di bawah:

  1. Tidak boleh sama sekali pegang mushaf, tapi kalau dari handphone/gadget boleh.
  2. Boleh baca seperti biasa.
  3. Boleh pegang mushaf tapi pakai sarung tangan.
  4. Tidak boleh sama sekali, via gadget pun tidak boleh karena bacaannya tetaplah bacaan suci.

Mohon penjelasannya.

Jawaban :
Pertanyaan di atas pada intinya berkisar pada dua masalah :

  1. Hukum menyentuh Al-Qur’an bagi yang berhadats (kecil atau besar).
  2. Hukum membaca Al-Qur’an bagi wanita yang sedang haidh.

Berikut ini penjelasan secara singkat :

MASALAH PERTAMA:
Hukum menyentuh Al-Qur’an bagi yang berhadats, apakah hadats kecil ataupun hadats besar (junub atau haidh); hukumnya adalah DILARANG, berdasarkan ayat Al-Qur’an QS. Al-Waqi’ah : 79, dan beberapa hadits terkait, diantaranya sabda Rasul SAW: “Hendaklah tidak ada yang menyentuh Al-Qur’an melainkan orang yang suci.” (HR. Malik, Ahmad dan Al-Hakim).

Dalam masalah ini (larangan menyentuh Al-Qur’an bagi yang berhadats), hampir semua ulama berpendapat sama, termasuk dari mazhab yang empat (Hanafi, Maliki, Syafi’i dan Hanbali). Pendapat ini juga dirujuk pada para sahabat dan tabi’in, sehingga ada yang mengatakan bahwa pendapat ini hampir saja menjadi “Ijma‘” (konsensus) di kalangan ulama. Kalaupun ada yang berbeda dalam masalah ini dengan menafsirkan suci di sini sebagai “suci aqidah” (artinya orang mu’min suci meski berhadats), namun pendapat tersebut tidak cukup kuat dibanding kekuatan dalil yang melarang di atas.

Catatan :
(1) Yang dimaksud “Menyentuh Al-Qur’an” di sini adalah menyentuh “MUSHAF” (kitab) Al-Qur’an yang dicetak secara khusus sebagai Mushaf Al-Qur’an. Atas dasar ini, maka terdapat “pengecualian” untuk :

(a) Al-Qur’an yang disertai Tafsirnya, atau Terjemahnya, yang porsi tulisan tafsir/terjemahnya itu (di luar ayat Al-Qur’an) lebih banyak.

(b) Al-Qur’an yang terdapat di dalam program atau aplikasi komputer, atau aplikasi handphone.

Dua bentuk ini tidak dilarang menyentuhnya bagi orang yang berhadats, karena tidak dikategorikan sebagai “Mushaf” secara mutlak. Teks Al-Qur’an yang terdapat di dalam aplikasi komputer/HP misalnya, tidak merupakan satu-satunya isi dari media tersebut. Seseorang yang memegang komputer atau HP yang di dalamnya ada aplikasi Al-Qur’an, tidak disebut memegang Al-Qur’an, melainkan tetap disebut memegang komputer atau HP.

(2) Menurut ulama dari kalangan Hanabilah, Hanafiyah, dan sebagian Syafi’iyyah dan Hanabilah; dibolehkan menyentuh Mushaf bagi orang yang berhadats tersebut apabila ia menyentuhnya dengan menggunakan alas penghalang (seperti sarung tangan, kain atau kertas).

MASALAH KEDUA:
Hukum membaca Al-Qur’an bagi wanita yang sedang haidh; dalam hal ini secara umum ada dua kelompok pendapat:

1) Mayoritas Ulama, yakni dari kalangan Hanafiyah, Syafi’iyah dan Hanabilah berpendapat; hukumnya terlarang bagi wanita haidh untuk membaca Al-Qur’an, karena dianggap sama dengan keadaan junub yang sudah jelas disebutkan di dalam hadits riwayat Imam Ali RA, yang mengatakan; “Tidak ada yang menghalangi Rasulullah SAW membaca Al-Qur’an kecuali keadaan janabah (hadats besar).” (HR. Ahmad, Abu Dawud dan Tirmidzi)

2) Ulama Malikiyah; membolehkan wanita haidh untuk membaca Al-Qur’an dengan alasan :

(a) Bahwa wanita haidh itu berbeda dengan junub, karena haidh bersifat lebih panjang waktunya, dan merupakan kodrat yang tidak dapat dielakkan oleh kaum wanita, kapan mulai dan berakhirnya. Sedangkan keadaan junub, sifatnya dapat langsung diangkat (disudahi) dengan segera bersuci sebagaimana ketentuan bersuci dari hadats besar.

(b) Tidak ada dalil hadits shahih yang khusus melarang wanita haidh untuk membaca Al-Qur’an, sedangkan hal tersebut merupakan salah satu peristiwa yang perlu mendapat perhatian kaum wanita di masa Rasul SAW. Jika dibandingkan dengan ketegasan larangan bagi wanita haidh untuk shalat dan puasa, tidak demikian halnya dalam hal membaca Al-Qur’an, dimana tidak terdapat hadits shahih yang melarang. Kalaupun ada hadits yang melarang dan dijadikan dasar oleh kelompok pertama, namun kualitas hadits tersebut dianggap dha’if oleh kelompok kedua.

Catatan :
– Ulama yang melarang wanita haidh membaca Al-Qur’an, tidaklah melarang jika membaca Al-Qur’an tersebut dimaksudkan sebagai bagian dari do’a, amalan, dzikir, dan sebagainya.

– Ulama yang membolehkan wanita haidh membaca Al-Qur’an di sini, tetap membatasinya dengan catatan :

  1. Jika ada kebutuhan untuk membaca Al-Qur’an, misalnya untuk menjaga hafalan, belajar, amalan rutin, dan sebagainya. Artinya, tidak semata-mata dibolehkan secara mutlak sebagaimana halnya saat tidak dalam keadaan haidh.
  2. Membacanya tetap dengan tidak menyentuh Mushaf secara langsung, kecuali dengan penghalang, atau melalui media yang tidak semata-mata berbentuk Mushaf, seperti Al-Qur’an yang disertai Tafsir/Terjemah, atau di dalam aplikasi komputer/HP (sebagaimana dijelaskan pada bagian hukum menyentuh Al-Qur’an di atas).

Jadi, kalau kita berpegang pada pendapat yang “melarang membaca”, maka dengan media apapun membaca tersebut adalah dilarang, kecuali “membaca dalam hati”, karena membaca dalam hati itu, sebenarnya tidak digolongkan membaca.

Namun, jika kita berpegang pada pendapat yang “membolehkan membaca”, maka dengan media apapun, membaca tersebut dibolehkan.

 

*Dijelaskan oleh Ustadz Dr. Umar Al Haddad, MA (Qur’an Learning Centre), tanggal 4 Maret 2016, via Group Whatsapp QLC.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s