Mempertemukan Kaki Dengan Kaki Dalam Shalat Berjamaah

Pertanyaan :
Apakah ada hadits yang isinya : ketika sholat berjamaah, di-sunnahkan antara kaki jamaah sebelah kita bersentuhan dengan kaki kita ?

Jawaban :
Tidak ada hadits yang memuat bahwa Nabi SAW memerintahkan sahabat-sahabatnya untuk mempertemukan kaki dengan kaki di dalam shaf shalat berjamaah. Yang diperintahkan Nabi adalah “meluruskan dan merapatkan shaf” sebagai bagian dari upaya mendapatkan kekhusyu’an shalat.

Lalu darimana pendapat tersebut muncul ? Dari pernyataan sahabat perawi hadits, yakni Anas bin Malik & Nu’man bin Basyir, yang menyatakan bahwa, pada suatu kesempatan, ketika Nabi memerintahkan sahabat untuk meluruskan shaf, mereka melihat ada “salah seorang di antara sahabat” yang mempertemukan kakinya dengan kaki temannya.

Berikut ini saya kutipkan teks haditsnya:

عن أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: أَقِيمُوا صُفُوفَكُمْ فَإِنِّي أَرَاكُمْ مِنْ وَرَاءِ ظَهْرِي وَكَانَ أَحَدُنَا يُلْزِقُ مَنْكِبَهُ بِمَنْكِبِ صَاحِبِهِ وَقَدَمَهُ بِقَدَمِهِ»

Dari Anas bin Malik, dari Nabi Muhammad SAW, beliau bersabda: ”Tegakkanlah shaf kalian, karena saya melihat kalian dari belakang pundakku.” (Lalu Anas berkata) Ada di antara kami orang yang menempelkan bahunya dengan bahu temannya dan telapak kakinya dengan telapak kaki temannya. (HR. Bukhari)

Jadi itu hanya perbuatan seorang sahabat (sebagaimana diceritakan Anas), sebagai respon atas perintah Nabi untuk meluruskan dan merapatkan shaf. Karena itu hal tersebut tidak bisa dijadikan dalil untuk mewajibkan perbuatan demikian, apalagi jika sampai mengganggu kekhusyu’annya dan kekhusyu’an teman di sebelahnya. Sedangkan kekhusyu’an shalat adalah yang utama daripada mengurusi pertemuan kaki dengan kaki tersebut. Demikian pendapat mayoritas ulama yang lebih dapat diterima.

Memang ada juga pendapat ekstrim dalam soal ini, seperti pendapat Al-Albani dan sebagian ulama wahhabi, yang mengharuskan menempelkan kaki dengan kaki dalam shaf, bahkan mencela orang yang tidak melakukannya. Namun pendapat ini tidak mempunyai dasar yang kuat sebagaimana kita amati dari dalil-dalil yang digunakannya.

Wallahu a’lam.

 

*Dijelaskan oleh Ustadz Dr. Umar Al Haddad, MA (Qur’an Learning Centre), tanggal 21 Januari 2016, via Group Whatsapp QLC.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s